Rabu, 23 Maret 2016



A.    Definisi Digital Literacy

              Digital Literacy adalah kemampuan untuk secara efektif dan kritis menavigasi, mengevaluasi dan membuat informasi dengan menggunakan berbagai teknologi digital. Hal ini dibutuhkan untuk mengenali dan menggunakan kekuatan itu, untuk memanipulasi dan mengubah media digital, untuk mendistribusikan pervasively, dan mudah mengadaptasi mereka untuk menjadi bentuk-bentuk baru. Digital Literacy tidak menggantikan bentuk-bentuk tradisional dari Digital Literacy, itu dibangun berdasarkan pondasi bentuk tradisional dari Digital Literacy. Penelitian sekitar Digital Literacy berkaitan dengan aspek-aspek yang lebih luas terkait dengan belajar cara efektif menemukan, menggunakan, meringkas, mengevaluasi, membuat, dan mengkomunikasikan informasi saat menggunakan teknologi digital.
              Digital Literacy meliputi semua perangkat digital, seperti perangkat keras komputer, perangkat lunak, internet, dan ponsel. Seseorang menggunakan keterampilan ini untuk berinteraksi dengan masyarakat, atau dapat disebut juga warga digital.




Sejarah singkat literasi digital.
Istilah literasi digital mulai popular sekitar tahun 2005 (Davis & Shaw,2011) Literasi digital bermakna kemampuan untuk berhubungan dengan informasi hipertekstual dalam arti bacaan tak berurut berbantuan komputer. Istilah aliterasi digital pernah digunakan tahun 1980an,(Davis & Shaw, 2011), secara umum bermakna kemampuan untuk berhubungan dengan informasi hipertekstual dalam arti membaca non-sekuensial atau non urutan berbantuan komputer (Bawden, 2001). Gilster (2007) kemudian memperluas konsep literasi digital sebagai kemampuan memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber digital.; dengan kata lain kemampuan untuk membaca, menulis dan berhubungan dengan informasi dengan menggunakan teknologi dan format yang ada pada masanya. Penulis lain menggunakan istilah literasi digital untuk menunjukkan konsep yang luas yang menautkan bersama-sama berbagai literasi yang relevan serta aliterasi berbasis kompetensi dan keterampilan teknologi komunikasi, namun menekankan pada kemampuan evaluasi informasi yang lebih “lunak” dan perangkaian pengetahuan bersama-sama pemahaman dan sikap (Bawden, 2008; Martin, 2006, 2008) . Literasi digital mencakup pemahaman tentang Web dan mesin pencari. Pemakai memahami bahwa tidak semua informasi yang tersedia di Web memiliki kualitas yang sama; dengan demikian pemakai lambat laun dapat mengenali situs Web mana yang andal dan sah serta situasi mana yang tidak dapat dipercayai. Dalam literasi digital ini pemakai dapat memilih mesin pemakai yang baik untuk kebutuhan informasinya,mampu menggunakan mesin pencarian secara efektif (misalnya dengan “advanced search”.

Komponen Literasi Digital
Menurut Bawden (2008), komponen literasi digital terdiri dari empat bagian sebagai berikut :
(1) Tonggak pendukung berupa :
 literasi itu sendiri dan§
 literasi komputer, informasi , dan teknologi komunikasi§
(2) Pengetahuan latar belakang terbagi atas :
 dunia informasi dan§
 sifat sumber daya informasi§

(3) Kompetensi berupa :
 pemahaman format digital dan non digital§
 penciptaan dan komunikasi informasi digital§
 Evaluasi informasi§
 Perakitan pengetahuan§
 Literasi informasi§
 Literasi media§

(4) Sikap dan perspektif.
Ini merupakan hal yang ,menciptakan tautan antara konsep baru literasi digital dengan gagasan lama tentang literasi. Perseorangan tidak cukup memiliki ketrampilan dan kompetensi melainkan hal itu harus berlandaskan kerangka kerja moral,yang diasosiasikan dengan seseorang yang terdidik. Dari semua komponen literasi digital, mungkin yang paling sulit diajarkan adalah kerangka kerja moral, namun hal itu paling kuat kedekatannya dengan istilah informasi dalam akar bahasa Latinnyainformare artinya membentuk, memaparkan. Pembelajaran mandiri dan literasi moral dan sosial merupakan kualitas yang ada pada seseorang dengan motivasi dan pikiran mendayagunakan informasi sebaik-baiknya. Ketiga hal tersebut merupakan dasar pemahaman pentingnya informasi serta urusan yang baik dengan sumber daya informasi dan saluran komunikasi serta insentif untuk meningkatkan kemampuan seseorang ke tingkat yang lebih baik.

Literasi moral menyangkut pemahaman bahwa akses yang hampir tidak terbatas pada Web diikuti dengan pemahaman bahwa tidak semua materi yang di unduh itu bebas dari hak cipta. Keempat komponen dianggap merupakan tuntutan yang berat yang ditujukan pada pemakai informasi. Rasanya berat namun hal tersebut merupakan keharusan bila
seseorang berkecimpung dan berhasil dalam lingkungan informasi dewasa ini. Dalam hal ini khususnya literasi digital merupakan alat yang ampuh untuk menghindari masalah dan paradox dalam perilaku informasi seperti beban lebih informasi (information overload), kecemasan informasi, penghindaran informasi dan sejenisnya (Bawden & Robinson, 2009).

Kompetensi utama Literasi digital
Dalam literasi digital, yang menjadi kompetensi utama mencakup :
(1) Pemahaman format digital dan non digital;
(2) Penciptaan dan komunikasi informasi digital;
(3) Evaluasi informasi;
(4) penghimpunan atau perakitan pengetahuan;
(5) Literasi informasi dan
(6) Literasi media (Davis & Shaw, 2011).




B.      Digital Literacy dan Keterampilan Abad 21

              Digital Literacy memerlukan keahlian tertentu dengan yang interdisipliner di alam. Informasi daftar, Media, dan Teknologi, Keterampilan Belajar dan Inovasi, dan Hidup dan Keterampilan Karir sebagai tiga set keterampilan yang individu perlu kuasai agar menjadi Digital Literacy, atau Keterampilan abad ke-21. Tercakup dalam Keterampilan Belajar dan Inovasi, kita  juga harus mampu untuk bisa melatih kreativitas dan inovasi, berpikir kritis dalam pemecahan masalah, dan komunikasi dan keterampilan kolaborasi. Dalam rangka untuk menjadi kompeten dalam Kehidupan dan Keterampilan Karir, perlu juga untuk dapat melaksanakan fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi, inisiatif dan pengarahan diri sendiri, keterampilan sosial dan lintas- budaya, produktivitas dan akuntabilitas, kepemimpinan dan tanggung jawab. Eshet- Alkalai  berpendapat bahwa ada lima jenis kemahiran yang tercakup dalam istilah umum Digital Literacy.

1.      Photo-visual literacy adalah kemampuan untuk membaca dan menyimpulkan informasi dari visual.
2.      Reproduksi Literacy adalah kemampuan untuk menggunakan teknologi digital untuk menciptakan karya baru dari pekerjaan.
3.      Percabangan Literacy adalah kemampuan untuk berhasil menavigasi di media non-linear dari ruang digital.
4.      Informasi Literacy adalah kemampuan untuk mencari, menemukan, menilai dan mengevaluasi secara kritis informasi yang ditemukan di web.
5.      Sosio-emosional Literacy mengacu pada aspek-aspek sosial dan emosional hadir secara online, apakah itu mungkin melalui sosialisasi, dan berkolaborasi, atau hanya mengkonsumsi konten.

 C.     Penggunaan Digital Literacy dalam masyarakat

              Digital Literacy membantu orang berkomunikasi dan mengikuti tren masyarakat. Literacy dalam layanan jaringan sosial dan Web 2.0 adalah situs yang membantu orang tetap berhubungan dengan orang lain, menyampaikan informasi yang tepat waktu dan bahkan menjual barang dan  jasa. Ini adalah sebagian besar yang populer di kalangan generasi muda, meskipun situs-situs seperti LinkedIn telah membuat berharga bagi para profesional yang lebih tua. Digital Literacy juga dapat mencegah orang percaya hoax yang menyebar online atau merupakan hasil dari manipulasi foto. E-mail penipuan dan  phishing sering mengambil keuntungan dari digital buta huruf, biaya korban uang dan membuat mereka rentan terhadap  pencurian identitas. Penelitian telah menunjukkan bahwa perbedaan tingkat Digital Literacy tergantung terutama pada usia dan tingkat pendidikan, sedangkan pengaruh gender menurun. Di antara orang-orang muda, khususnya, Digital Literacy yang tinggi dalam dimensi operasional (misalnya cepat bergerak melalui hypertext, keakraban dengan berbagai jenis sumber daya online), sedangkan keterampilan untuk secara kritis mengevaluasi konten yang ditemukan secara online menunjukkan defisit.

 D.     Penggunaan Digital Literacy dalam pendidikan

              Sekolah terus memperbarui kurikulum mereka untuk Digital Literacy, untuk mengikuti  percepatan perkembangan teknologi. Seperti halnya berisi komputer di dalam kelas, penggunaan  perangkat lunak pendidikan untuk mengajarkan kurikulum, dan materi kursus yang dibuat tersedia untuk siswa secara online. Guru sering mengajarkan keterampilan Digital Literacy untuk siswa yang menggunakan komputer untuk penelitian. Keterampilan tersebut termasuk memverifikasi system kredibel online dan bagaimana untuk mengutip situs web. Google dan Wikipedia yang digunakan oleh siswa untuk penelitian kehidupan sehari-hari. Pendidik sering diharuskan untuk disertifikasi dalam Digital Literacy untuk mengajar software tertentu dan lebih prevalently, untuk mencegah  plagiarisme di kalangan mahasiswa.

 E.      Penggunaan Digital Literacy dalam angkatan kerja

              Mereka yang berada pada posisi Digital Literacy lebih cenderung secara ekonomi aman. Banyak pekerjaan memerlukan pengetahuan tentang komputer dan internet untuk melakukan fungsi dasar. Sebagai teknologi nirkabel, meningkatkan pekerjaan lebih membutuhkan kemampuan dengan ponsel dan PDA (kadang-kadang digabungkan menjadi ponsel pintar ). Kerah putih  pekerjaan semakin dilakukan terutama pada komputer dan perangkat  portabel. Banyak dari pekerjaan ini membutuhkan bukti Digital Literacy untuk dipekerjakan atau dipromosikan. Kadang-kadang perusahaan akan melakukan tes sendiri untuk karyawan, atau sertifikasi resmi akan diperlukan. Perekrut pekerjaan sering menggunakan situs Web kerja untuk mencari karyawan potensial, sehingga Digital Literacy penting perannya dalam mengamankan  pekerjaan.

 F.      Kesenjangan Digital Literacy

              Digital Literacy dan akses digital telah menjadi differentiators kompetitif semakin  penting. Menjembatani ekonomi dan pembangunan. Sebagian besar adalah soal Digital Literacy meningkat dan akses bagi masyarakat yang telah ditinggalkan dari informasi dan teknologi komunikasi. Scholar  Howard Besser  berpendapat bahwa kesenjangan digital adalah lebih dari sekedar kesenjangan antara mereka yang memiliki akses ke teknologi dan mereka yang tidak. Masalah ini mencakup aspek-aspek seperti literasi informasi, ketepatan isi, dan akses ke konten. Selain akses, kesenjangan digital antara mereka ada yang menerapkan  berpikir kritis untuk teknologi atau tidak, mereka yang berbahasa Inggris atau tidak, dan mereka yang menciptakan digital konten atau hanya mengkonsumsinya.

G.   Dampak global

              Pejabat pemerintah di seluruh dunia telah menekankan pentingnya Digital Literacy untuk mereka dalam hal ekonomi. Banyak  negara berkembang  juga berfokus pada pendidikan DigitalLiteracy untuk bersaing secara global. Literasi digital berdampak pada pustakawan karena dia harus menguasai literasi informasi serta literasi lainnya sehingga memungkinkan pustakawan mengembangkan kegiatan literasi informasi di lingkungannya. Pengetahuan latar belakang juga menimbulkan masalah pada pendidikan pustakawan. Apakah pola pendidikan pustakwan yang didominasi program sarjana masih diteruskan atau diubah? Pengalaman menunjukkan bahwa pustakawan yang berbasis sarjana ilmu perpustakaan merasakan kurang bekal ilmu pengetahuan lain onilmu perpustakaan untuk kepentingan pekerjaannya. Maka banyak pustakwan yang bergelar sarjana ilmu perpustakaan, manakala sudah bekerja, melanjutkan pendidikan di tingkat pascasarjana bidang lain seperti komunikasi, pendidikan, sejarah dll. Keadaan semacam itu mencetuskan gagasan mengapa beberapa lembaga penyelenggara pendidikan pustakawan lebih memusatkan pada pendidikan pascasarajana disertai dengan kegiatan riset sedangkan lembaga lain tetap berkonsentrasi pada program sarjana saja. Juga secara tidak langsung hal itu nampak pada usulan Forum Kerjasama Perpustakaan Perguruan Tinggi yang mengusulkan agar kepala perpustakaan universitas adalah mereka yang bergelar magister ilmu perpustakaan atau yang lebih tinggi.

Apa itu Literasi Informasi?
          Literasi informasi sering disebut juga dengan keberaksaraan informasi atau kemelekan informasi. Dalam bidang ilmu perpustakaan dan informasi, literasi infromasi sering dikaitkan dengan kemampuan mengakses dan memanfaatkan secara benar informasi yang tersedia.
          Pengertian literasi informasi yang sering dikutip adalah pengertian literasi informasi dari American Library Association (ALA) : “information literacy is a set of abilities requiring individuals to “recognize when information is needed and have the ability to locate, evaluate, and use effective needed information”.
Artinya, literasi informasi diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengidentifikasi informasi yang dibutuhkannya, mengakses dan menemukan informasi, mengevaluasi informasi, dan menggunakan informasi seara efektif dan etis. (dalam Naibaho, 2007: 7-8)
          Informasi yang menjadi obyek disini dapat bersumber dari mana saja, baik dari media cetak seperti buku, majalah, jurnal, maupun sumber non cetak, seperti file dalam komputer, internet, film, hasil percakapan dan sebagainya. Information literacy berperan sebagai alat untuk memilah informasi-informasi tersebut, agar yang berguna dapat tetap dimanfaatkan secara maksismal dan sebaliknya, informasi ang hanya berpotensi menjadi sampah akan dapat difilter. Capaian yang diharapkan secara langsung adalah efisiensi dalam hal waktu, biaya dan tenaga yang dikeluarkan selama proses pencarian informasi.
          Dalam perkembangannya, konsep information literacydiaplikasikan melalui saluran-saluran (channel) berupa kegiatan praktis, misalnya dalam kegiatan pendidikan pemakai perpustakaan, pembekalan bagi siswa maupun mahasiswa baru hingga kepentingan dunia bisnis, Meluasnya area yang membutuhkan kemampuan melek informasi mendorong banyak professional di bidang informasi dan perpustakaan untuk memulai menyusun berbagai formula pendekatan yang dapat mempermudah masyarakat menguasai kemampuan ini.
          Kemampuan untuk menemukan informasi, mengolah dan menyajikan informasi sebenarnya kemampuan umum yang dimiliki oleh setiap orang. Tetapi tidak semua orang dapat dikatakan mempunyai kemampuan literasi informasi. Seseorang dikatakan mempunyai keterampilan literasi informasi mampu memahami kebutuhan informasi dan mendapatkan informasi yang tepat dalam berbagai format lalu mampu menggunakan dan menyajikan informasi tersebut dalam bentuk yang tepat dan benar. Dengan kemampuan ini seseorang memiliki kerangka kerja intelektual untuk memahami, mencari dan mengevaluasi dan menggunakan informasi.
          Untuk mensikapinya ledekan informasi yang saat ini terus berkembang kita memerlukan sebuah strategi literasi yaituinformation literacy skills, yang dimaknai sebagai kemampuan untuk mengenali adanya kebutuhan informasi dan kemampuan untuk menempatkan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi dengan efektif. Ada sejumlah elemen pendukunginformation literacy, yang juga berperan sebagai prasyarat untuk menguasai information literacy skill secara utuh. Elemen-elemen tersebut bersifat saling melengkapi dan tidak terpisahkan. Satu hal yang penting untuk digaris bawahi adalah bahwa upaya implementasi information literacy skill selalu membutuhkan saluran (Channel), yang dapat berupa kegiatan pembelajaran disekolah maupun di perguruan tinggi, kegiatan pendidikan pemakai di perpustakaan dan lain sebagainya. Hasil yang hendak dicapai dari penguasaan dan aplikasi information literacy skill ini adalah efisiensi biaya, waktu, dan tenaga yang dikeluarkan selama proses pencarian informasi.
Elemen-Elemen Information Literacy
          Menggunakan informasi dalam berbagai bentuk menuntut sejumlah “kemampuan melek (literacies)”, diluar kemampuan dasar seperti menulis dan membaca. Berikut ini beberapa jenis “melek” yang berperan menjadi elemen dalam information literacy.
Visual Literacy
          Visual Liteacy didefenisikan sebagai kemampuan untuk memahami dan menggunakan gambar, termasuk pula kemampuan untuk berpikir, belajar, serta mengekspresikan gambar tersebut. Visual literacy terbagi menjadi 3 konstruksi, yaitu: :
• Pembelajaran visual (visual learning): kemampuan dalam mengakuisisi dan mengkonstruksi pengetahuan yang merupakan hasil interaksi dengan fenomena visual.
• Pemikiran visual (visual thinking): kemampuan untuk mengoraganisasikan citra mental pada hal-hal diseputar bentuk, garis, warna, teksur, dan komposisi
• Komunikasi visual (visual communication): kemampuan menggunakan symbol visual untuk mengekspresikan gagasan dan menyampaikan makna.

Media Literacy
          Menurut National Leardship Conference on Media Literacy, Media Literacy adalah kemampuan warga Negara untuk mengakses, menganalisa, dan memproduksi informasi untuk hasil yang spesifik. Media mampu menyuntikkan nilai-nilai yang mampu mengubah pandangan, dan bahkan sikap hidup secara missal. Untuk itu masyarakat memerlukan keterampilan melek media agar mampu mensikapi keberadaan media dengan lebih kritis dan bijaksana.
Computer Literacy
          Komputer merupakan alat yang dapat memfasilitasi dan memperluas kemampuan manusia dalam mempelajari dan memproses informasi. Contoh yang paling nyata adalah penggunaan komputer secara luas dalam dunia pendidikan. Sekarang ini dapat dikatakan bahwa komputer telah menjadi bagian integral dari pendidikan. Computer literacy sering diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan dan memanipulasi dokumen dan data menggunakan perangkat lunak pengolah kata, pangkalan data, dan sebagainya. Namun, The Computer Science and Telecommunication Board of the National Research Counsil mendefenisikan kembali computer literacy sebagai kemampuan dalam menguasai teknologi informasi
Digital Literacy
          Digital Literacy merupakan keahlian yang berkaitan dengan penguasaan sumber dan perangkat digital. Perkembangan pesat teknologi informasi dewasa ini telah menghasilkan banyak temuan-temuan digital terbaru. Tidak jarang hal ini banyak memicu terjadinya kesenjangan antar masyarakat dan bahkan antar bangsa. Mereka yang mampu mengejar dan menguasai perangkat-perangkat digital muktahir dicitrakan sebagai penggenggam masa depan, dan sebalikna yang tertinggal akan semakin sempit kesempatannya untuk meraih kemajuan.
Network Literacy
          Network literacy merupakan satu istilah yang masih terus berkembang (envolving). Untuk dapat menempatkan, mengakses dan menggunakan informasi dalam dunia berjejaring, misalnya internet, pengguna harus menguasai keahlian ini. Menurut Eisenberg (2004) orang yang melek jaringan memiliki sejumlah karakteristik sebagai berikut:

·       Memiliki kesadaran akan luasnya penggunaan jasa dan sumber informasi berjejaring
·       Memiliki pemahaman bagaimana sistem informasi berjejaring diciptakan dan dikelola
·    Dapat melakukan temu balik informasi tertentu dari jaringan dengan menggunakan serangkaian alat temu balik informasi
·    Dapat memanipulasi informasi berjejaring dengan memadukan dengan sumber lain dan meningkatkan nilai informasinya untuk kepentingan tertentu
·   Dapat menggunakan informasi berjejaring unutk menganalisa dan memecahkan masalah yang terkait dengan pengambilan keputusan, baik untuk kepentingan tugas dan maupun pribadi, serta menghasilkan layanan yang mampu meningkatkan kualitas hidup.
·  Memiliki pemahaman akan peran dan penggunaan informasi berjejaring untuk memecahkan masalah dan memperingan kegiatan dasar hidup.




SUMBER :
www.cilip.org.uk/sites/default/files/document/Informatioan%20literacy%20skills.pdf

Pentingnya keterampilan Literasi Informasi untuk masyarakat Informasi Literate 7
Makalah "LITERASI INFORMASI" dalam Mata Kuliah Ilmu Perpustakaan
Disusun Oleh:Nurholis Wz.

Literasi Informasi
Pendahuluan
            Dewasa ini berbagai lembaga pendidikan mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi ada yang mulai, sedang, dan telah membangun program literasi informasi. Literasi informasi yang merupakan terjemahan dari  information literacy dalam pengertian ringkas diartikan sebagai keberaksaraan informasi atau kemelekan informasi. Penguasaan literasi informasi dipandang sangat penting dalam proses pembelajaran sehingga menjadi bagian dari program pendidikan. Dalam lingkup yang lebih luas, bahwa program literasi informasi sebenarnya adalah program pemberdayaan masyarakat khususnya dalam bidang informasi. 
            Literasi informasi berhubungan erat dengan tugas pokok pelayanan perpustakaan. Dalam perkembangannya, para pustakawan terutama pustakawan pada perpustakaan sekolah dan perguruan tinggi, umumnya memandang keterampilan yang hendak dikembangkan dalam program literasi informasi adalah berupa keterampilan yang tidak mengundang permasalahan (non-problematis). Artinya, bahwa kemampuan seseorang  untuk mencari dan menemukan informasi adalah berupa serangkaian keterampilan yang dipindahkan dari pustakawan kepada pengguna untuk tujuan memudahkan pelayanan dan agar tidak merepotkan pustakawan. Selanjutnya, setelah seorang siswa atau mahasiswa memperoleh keterampilan itu, ia diharapkan dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan menyelesaikan masalah, serta pada gilirannya menambah motivasi untuk  belajar. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya, program-program pelatihan literasi informasi diperluas menjadi pelatihan tentang dunia teks pada umumnya yaitu bagaimana cara yang efektif dan efisien untuk mencari dan menemukan dokumen dari perpustakaan, selanjutnya ditambah dengan penumbuhan budaya digital agar mampu dan terbiasa melakukan akses terhadap berbagai sumber daya informasi elektronik. Akses terhadap sumberdaya informasi elektronik saat ini sudah menjadi keharusan mengingat volume informasi dalam format elektronik yang tersedia saat ini diperkirakan jauh melebihi informasi yang tersedia dalam format tercetak. Akibatnya, proses pembelajaran harus memanfaatkan informasi dalam format elektronik.[1]



Definisi literasi informasi
Literasi informasi sering disebut juga dengan keberaksaraan infromasi atau kemelekan informasi. Dalam bidang ilmu perpustakaan dan informasi, literasi infromasi sering dikaitkan dengan kemampuan mengakses dan memanfaatkan secara benar informasi yang tersedia.
Pengertian literasi informasi yang sering dikutip adalah penegrtian literasi informasi dari American Library Association (ALA) :
“information literacy is a set of abilities requiring individuals to “recognize when information is needed and have the ability to locate, evaluate, and use effective needed information”.
Artinya, literasi informasi diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengidentifikasi informasi yang dibutuhkannya, mengakses dan menemukan informasi, mengevaluasi informasi, dan menggunakan informasi seara efektif dan etis. (dalam Naibaho, 2007: 7-8)[2]
Definisi tentang literasi informasi sangat banyak dan terus berkembang sesuai kondisi waktu dan perkembangaan lapangan. Dalam rumusan yang sederhana literasi informasi adalah kemampuan mencari, mengevaluasi dan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif. Hakekat dari literasi informasi adalah seperangkat keterampilan yang diperlukan untuk mencari, menelusur, menganalisis, dan memanfaatkan informasi (Bundy, 2001). Mencari informasi dapat dilakukan ke perpustakaan, toko buku, pusat-pusat informasi, di Internet dan sebagainya. Menelusur adalah upaya untuk menemukan kembali informasi yang yang telah disimpan.[3]
Manfaat Literasi informasi
Membantu kita mengambil keputusan.
Dalam kehidupan manusia pasti mempunyai masalah. Manusia memerlukan solusi untuk memecahkan masalah tersebut. Dalam segenap sisi kehidupan manusia mempunyai pilihan yang harus diambil. Pilihan-pilihan yang dihadapi manusia memerlukan keputusan. Untuk sukses mengambil keputusan, kita perlu memiliki informasi yang cukup. Proses yang harus kita lalui dalam mengambil suatu keputusan adalah : 1) perumusan masalah, 2) pengumpulan informasi dan 3) penggunaan informasi.
Menjadi manusia pembelajar di era ekonomi pengetahuan
Di abad ke 21 ini, manusia menyaksikan sebuah fase peradaban baru yang disebut sebagai era ekonomi pengetahuan. Di era seperti ini, pengetahuan menjadi asset bagi individu, organisasi dan perusahaan jika mereka ingin tetap “survive”.
Kemampuan literasi informasi memiliki peran yang strategis dalam meningkatkan kemampuan Anda menjadi manusia pembelajar. Semakin Anda terampil dalam mencari, menemukan, mengevaluasi dan menggunakan informasi, semakin terbukalah kesempatan Anda untuk selalu melakukan pembelajaran.
Menciptakan pengetahuan baru
Sehubungan dengan majunya Teknologi, keanekaragaman kebutuhan dan tuntutan masyarakat terhadap informasi yang dapat diperoleh secara cepat, tepat dan akurat.[4] kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kemampuan bangsa itu dalam tiga hal yaitu, penciptaan pengetahuan, distribusi pengetahuan dan pengembangan infrastruktur tekhnologi yang memudahkan penyebaran pengetahuan.
Perkembangan tekhnologi internet meniscayakan sebuah fenomena yang disebut dengan ’superhighway information’. Batas batas geografi menjadi tidak ada lagi. Informasi dan pengetahuan bergerak dengan sangat cepat melalui internet. Ketrampilan literasi informasi akan memungkinkan seseorang untuk mendapatkan informasi dengan cara yang cepat pula. Seseorang yang mempunyai kemampuan literasi yang tinggi dicirikan oleh kemampuannya dalam memecahkan masalah dan mengkomunikasikan gagasannya dengan baik. Ia juga dapat berpikir secara kritis dan analistis. Ia dapat membangun argumentasinya secara logis dengan didukung fakta, bukti dan informasi yang diperlukan. Seseorang yang memiliki literasi informasi dapat memilah mana informasi yang benar dan mana yang salah, sehingga ia tidak mudah untuk terprofokasi oleh informasi tertentu.[5]

Contoh-contoh model literasi informasi
The big6
Para pakar mengembangkan banyak model literasi informasi. Salah satu model literasi informasi dikembangkan oleh dua pakar bernama Robert E. Berkowitz pada tahun 1987. Dan Michael B. Eisenberg. Berkowitz dan Eisenberg (1987) menamakan model ini dengan the big 6 yang terdiri dari 6 ketrampilan. Tiap-tiap ketrampilan mempunyai beberapa langkah. 6 ketrampilan literasi informasi the Big6 dan langkah-langkahnya dapat dilihat dalam bagan 1 di bawah ini:
1. Merumuskan masalah. Langkah-langkahnya:
Merumuskan masalah.
Mengidentifikasikan informasi yang dibutuhkan.
Setelah mendapat tugas seperti disebut di atas, maka langkah pertama adalah memahami masalah tugas secara keseluruhan dengan cara:
(a)  Brainstorming dengan kelompok untuk memastikan bentuk, isi, kebutuhan untuk menyelesaikan tugas. Cara ini digunakan untuk menggali, mempertajam, dan mengembangkan gagasan dan penemuan masalah.  Brainstorming dapat dilakukan melalui visualisasi pemikiran kita dan mengajukan pertanyaan. Gunakan pertanyaan 5W1H (what, when, who, why, where, dan how) untuk memperjelas area topik tugas dan memperjelas tugas
(b)  Clustering dapat digunakan untuk membuat hubungan dari bagian-bagian topik sehingga tampak relasinya dengan menggunakan bagan dan garis, atau menggunakan gambar sketsa.
(c)  Freewriting adalah menulis bebas tentang apa saja yang berkaitan dengan topik atau tugas. Gunakan freewriting untuk
menyatakan atau menggambarkan proyek secara tulisan.
            Hasil dari proses di atas adalah pernyataan atau penjabaran dari tugas yang menjadi rumusan masalah. Rumusan masalah diperoleh setelah diidentifikasi melalui berbagai cara.[6]  

2. Mengembangkan strategi pencarian informasi
Menentukan sumber.
Memilih sumber terbaik.
3. Lokasi dan akses
Mengalokasikan sumber secara fisik dan virtual.
Menemukan informasi di dalam sumber-sumber tersebut.
4. Memanfaatan informasi
Membaca, mendengar.
Memilih informasi yang relevan.
5. Mensintesiskan informasi
Mengorganisasikan informasi dari berbagai sumber.
Mempresentasikan informasi tersebut.
6. Mengevaluasi informasi
Mengevaluasi efektivitas dan efisiensi dari seluruh proses yang telah dilakukan.

Empowering8
Pada tahun 2004 Indian Library Association mengadakan workshop tentang literasi informasi dilanjukan oleh workshop yang kedua tahun 2005 (Bhandary, 2006). Workshop ini dihadiri oleh 10 negara yakni; Indonesia, India, Bangladesh, Maldiva, Malaysia, Nepal, Pakistan, Singapura, Sri Lanka, Vietnam dan Thailand. Hasil dari kedua seminar ini menghasilkan sebuah konsep yang disebut ‘empowering8′.[7]
Konsep empowering8 mengembangkan ketrampilan belajar (learning skill) dengan menggunakan sumber-sumber belajar (learning resources). Model literasi informasi empowering8 terdiri dari 8 ketrampilan literasi yang harus dikuasai, yakni;
Model literasi empowering 8 menggunakan pendekatan pemecahan masalah yang berupa resource-based learning yaitu suatu kemampuan untuk belajar berdasarkan sumber datanya. Model literasi ini dihasilkan dari dua workshop yaitu di Kolombo tahun 2004 dan di Patiala-Indiatahun 2005. Menurut model ini, literasi informasi terdiri dari kemampuan untuk:
(1)  Mengindentifikasi topik/subyek, sasaran audiens, format yang relevan, jenis-jenis sumber
(2)  Mengeksplorasi sumber dan informasi yang sesuai dengan topik
(3)  Menyeleksi dan merekam informasi yang relevan dan mengumpulkan kutipan-kutipan yang sesuai
(4)  Mengorganisasi, mengevaluasi, dan menyusun informasi menurut susunan yang logis, membedakan antara fakta dan pendapat dan menggunakan alat bantu visual untuk membandingkan dan mengkontraskan informasi
(5)  Menciptakan informasi dengan menggunakan kata-kata sendiri, mengedit dan membuat daftar pustaka ataupun menghasilkan karya baru
(6)  Mempresentasi, menyebarkan atau menyampaikan informasi yang dihasilkan
(7)  Menilai output, berdasarkan masukan dari orang lain
(8)  Menerapkan masukan, penilaian, pengalaman yang diperoleh untuk kegiatan yang akan datang; dan menggunakan pengetahuan baru yang diperoleh untuk pelbagai situasi.[8]

Perbedaan antara The big 6 dengan Empowering8
Perbedaan antara The Big6 dan Empowring 8 terletak pada kemampuan kelima yaitu sintesis di The Big6 menjadi organisasi, penciptaan dan presentasi pada Empowring 8. Selanjutnya kemampuan ke 8 yaitu penerapan tidak terdapat pada The Big6.

Kecakapan menulis dan membaca digital dan keterampilan keamanan
Keterampilan digital anak-anak dinilai dari meminta 25.000 orang eropa pengguna internet berusia sekitar  9-16 tahun tentang aktivitas online mereka, keterampilan dan self-efficacy.

Berbagai keterampilan digital dan aktivitas online yang terkait. Tapi banyak anak-anak muda (berusia 11-13 tahun)  kurangnya kunci penting dan keselamatan keterampilan. Juga, keterampilan merata oleh status sosial-ekonomi.

Mengembangkan keterampilan keselamatan dapat mendorong keterampilan lainnya, dan keterampilan yang lebih berhubungan dengan kegiatan online lainnya. Jadi, mengajar anak-anak untuk menjadi kebutuhan yang lebih aman tidak mengurangi dan bahkan dapat mendorong peluang online.
Masalah Keahlian Digital
EU Kids Online bertanya tiga pertanyaan dari pengguna internet  di 25 negara:

  1. Rentang aktivitas online: anak-anak (usia 9-16) ditanya apakah mereka telah menyelesaikan 17 kegiatan di bulan lalu; mungkin, lebih (kurang) anak melakukan online, semakin besar (lemah) keterampilan mereka.

  1. Spesifik keterampilan internet: anak-anak (usia 11-16) ditanya apakah mereka memiliki salah satu dari 8 keterampilan - baik keselamatan digital dan / keterampilan informasi penting.

  1. Self-efficacy: anak-anak (usia 9-16) ditanya, benarkah bagi Anda, aku tahu banyak tentang Internet?







Aktivitas online anak-anak dapat dilihat pada tabel dibawah ini (juli 2011)
Keterampilan online anak-anak
  • Anak memiliki rata-rata sekitar setengah keterampilan
  • Anak-anak muda tidak memiliki keterampilan yang signifikan : anak laki-laki lebih terampil daripada perempuan
  • Anak-anak dari latar belakang SES tinggi sedikit lebih terampil dibandingkan anak SES rendah
  • Berbagai keterampilan berjalan beriringan
Self-efficacy anak-anak online
  • Anak-anak mengetahui lebih dari orang tua mereka : hanya 36% dari orang eropa, 9-16 tahun mengatakan itu sangat benar.
  • Beberapa orang tua tahu lebih banyak :  anak usia 9-10 tahun mengatakan itu tidak benar bahwa mereka tahu lebih banyak tentang internet dari orang tua mereka
  • Hal usia : anak laki-laki lebih percaya diri
Membandingkan ukuran keterampilan digital
Berikut tabel korelasi antara skill, aktivitas, dan self-efficacy





Membandingkan Negara
Selain membandingkan keterampilan dan kegiatan di tingkat individu, ini juga dapat dibandingkan di negara. Dengan kata lain, apakah kasus yang di negara-negara di mana anak-anak melakukan lebar (atau sempit) Kisaran online kegiatan keterampilan digital mereka lebih besar (atau lebih kecil)?
  • Anak-anak di Finlandia klaim menjadi yang paling terampil
  • Di Turki, baik keterampilan dan tingkat aktivitas rendah. Irlandia berdiri sebagai sebuah negara dengan jumlah aktivitas rendah.